AEC, Thailand Dan Tantangannya

AEC, Thailand Dan Tantangannya – Program AEC tidak dibuat untuk membantu satu negara saja. Mereka harus dapat membantu anggota untuk mengembangkan dan meningkatkan kekuatan ekonominya. Namun, ada satu fakta unik. Negara-negara ASEAN memiliki masalah serupa pada efek jangka panjang MEA. Thailand memang dikenal sebagai kuda hitam ASEAN, namun mereka tidak terkecuali dalam berbagai tantangan.
– Masalah Pemerintah
Negara-negara ASEAN masih dihormati dalam rantai investasi global. Berkat perusahaan monster seperti Central Group, Salim Group, Singtel dan Vinamilk, roda gigi ekonomi dapat berjalan dengan baik. ASEAN adalah rumah bagi 20% perusahaan lokal besar dan 80% pengusaha menengah ke kecil. Meski tampak menjanjikan, masalah pemerintah daerah seperti korupsi atau pencucian uang membuat perusahaan-perusahaan kecil mati lemas.

– Model Bisnis yang Diperbarui
Tidak semua perusahaan senang dengan tambahan pesaing dari negara lain. Ini adalah perjuangan sehari-hari untuk mempromosikan dan menjual barang-barang mereka. Sekarang pelanggan memiliki lebih banyak pilihan, pendapatan mereka mungkin dipotong. Untuk mengatasi masalah ini, perusahaan sbobet login harus mengubah pendekatannya, mengikuti tren pasar, mereka harus fokus pada satu produk dan memperbaikinya.

– Mendidik Generasi Muda
Dari segi angka pendidikan, ASEAN tidak tertinggal terlalu jauh. Padahal, generasi muda di negara-negara ASEAN memiliki literasi yang baik dan pengetahuan yang memadai. Jika program MEA berjalan dengan baik, maka akan terjadi perubahan demografis. Pemerintah dan sekolah harus menyesuaikan kurikulum mereka. Tujuannya tidak hanya sekedar mengajarkan materi dasar, tetapi juga mempersiapkannya untuk kebutuhan masa depan. Jika tidak, mereka mungkin tidak dapat mengikuti kompetisi.

AEC, Thailand

Jalan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan cukup bergelombang. Ini mencakup tidak hanya fasilitas untuk membuat investasi berjalan dengan baik atau kebijakan untuk memungkinkan perusahaan tumbuh dengan mantap. Pembangunan ekonomi harus didukung oleh kualitas dan hubungan manusia yang lebih baik. Jika anggota negara bisa menyelesaikan pekerjaan rumah ini, ASEAN mungkin menaikkan gaji lebih tinggi dari yang diharapkan.

Segitiga Emas IMT-GT Untuk Meningkatkan Perekonomian Indonesia
AEC AEC Blueprint Berita

Segitiga Emas IMT-GT Untuk Meningkatkan Perekonomian Indonesia

Segitiga Emas IMT-GT Untuk Meningkatkan Perekonomian Indonesia – Presiden Joko Widodo mengatakan akan menuntaskan berbagai proyek infrastruktur untuk membantu pembangunan ekonomi Indonesia, Malaysia dan Thailand. Hal tersebut beliau katakana ketika memimpin pertemuan ke-12 IMT-GT (Indonesia, Malaysia, Thailand Growth Triangle) di sela-sela KTT ke-34 ASEAN yang diselenggarakan di Bangkok, Thailand. Dalam pertemuan tersebut juga hadir Mahathir Mohamad selaku Perdana Menteri Malaysia, Prayut Chan-o-cha selaku Perdana Menteri Thailand, Lim Jock Hoi selaku Sekretaris Jenderal ASEAN dan Takehiko Akano selaku Presiden Bank Pembangunan Asia (ADB).

Pada awal sambutannya, Presiden Joko Widodo menyampaikan kerjasama ketiga negara dalam IMT-GT sebagai kerjasama segitiga emas dengan total penduduk 83 juta, 14 provinsi Thailand, 10 provinsi Indonesia dan 8 negara bagian Malaysia. Kerjasama IMT-GT banyak memberikan kontribusi dalam membangun perekonomian terutama dalam sub-kawasan termasuk juga untuk meningkatkan daya saing yang ada di daerah-daerah, meningkatkan nilai perdagangan, investasi, pariwisata dan juga meningkatkan konektivitas.

Menurut Presiden Joko Widodo, tantangan bagi IMT-GT kedepannya tidak hanya dalam mempertahankan pencapaian selama puluhan tahun ini, namun juga memastikan bahwa pembangunan bisa dilakukan dengan lebih efektif. Dinamika perekonomian penuh dengan ketidakpastian, sehingga sangat penting adanya kerjasama IMT-GT untuk meningkatkan sinergi dan juga koordinasi dalam kerjasama.

Presiden Joko Widodo mengungkapkan 3 cara untuk meningkatkan kerjasama khususnya dalam bidang ekonomi ketiga negara. Pertama adalah melakukan pengembangan proyek infrastruktur dan menyelesaikan proyek-proyek tersebut. Ini sejalan dengan fokus implementasi IMT-GT Vision untuk tahun 2036. Indonesia telah berkomitmen kuat untuk menyelesaikan proyek-proyek infrastruktur konektivitas yang ada di Sumatera, contohnya seperti penyelesaian jalur kereta api, tol Trans Sumatera, Pelabuhan dan juga jalur pelajaran antara Dumai – Malaka agar dapat meningkatkan perdagangan lintas negara (Indonesia – Malaysia). Menurut Jokowi, pengembangan konektivitas fisik tersebut diperlukan untuk mendorong pengembangan dalam bidang pariwisata khususnya di kawasan IMT-GT. Terdapat potensi besar di Indonesia, Malaysia dan Thailand, yaitu wisata bahari seperti pariwisata menggunakan kapal pesiar serta yacht, dan juga pengembangan SDM untuk pelaku usaha dalam sektor pariwisata.

Yang kedua adalah pertumbuhan ekonomi yang sifatnya berkelanjutan dan juga inklusif. Dalam hal ini yang dimaksud adalah pada sektor pertanian yang memiliki peran sangat penting dalam kontribusinya terhadap pembangunan di sub-kawasan IMT-GT. Komoditas yang memiliki multiplier efek besar terhadap perekonomian adalah karet dan juga kepala sawit. Untuk itulah diperlukan peningkatan kerjasama yang konkret untuk memajukan kedua industri ini.

Yang ketiga adalah sektor industri halal. Kerjasama ketiga negara perlu mendorong dalam penguatan kerjasama untuk sektor UMKM halal yang memiliki orientasi ekspor dan juga halal startup. Tahun 2020 Indonesia bermaksud untuk menyelenggarakan Halal Summit di bulan Oktober. Dan harapannya dengan adanya summit ini akan membuat peluang industri halal di Indonesia. Didampingi oleh Retno Marsudi selaku Menteri Luar Negeri, Darmin Nasution selaku Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Enggartiasto Lukita selaku Menteri Perdagangan, Pramono Anung selaku Sekretaris Kabinet dan Ahmad Rusdi selaku Dubes RI untuk Thailand, Presiden Jokowi menyampaikan ide-ide tersebut.

Sumatera Utara menjadi salah satu sub-kawasan yang dianggap memiliki potensi besar untuk menjadi pusat kerjasama ketiga negara tersebut. Yang mana kerjasama ini dapat meningkatkan perekonomian di wilayah Sumatera Utara. Hal ini dijelaskan sendiri oleh Dr Hj R Sabrina selaku Sekretaris Daerah Provinsi Sumut saat rapat persiapan IMT-GT. Menurut beliau, kerjasama ini dapat dimaksimalkan dengan peran aktif perusahaan IDN Poker dan pemerintah provinsi Sumatera Utara.

Kesepakatan Pengembangan Kerjasama Indonesia – Thailand & Indonesia – Pakistan
AEC AEC Blueprint Berita

Kesepakatan Pengembangan Kerjasama Indonesia – Thailand & Indonesia – Pakistan

Kesepakatan Pengembangan Kerjasama Indonesia – Thailand & Indonesia – Pakistan – Pemerintah Indonesia – Thailand telah sepakat untuk mengembangkan kerjasama nya dalam bidang investasi dan juga perdagangan. Desra Percaya selaku Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri RI mengatakan bahwa persahabatan antara Indonesia dan Thailand adalah aset utama untuk memperkuat hubungan kemitraan agar mendapatkan masa depan kedua negara yang lebih baik. Pernyataan beliau disampaikan dalam seminar Indonesia – Thailand dengan tema Going Forward: Thailand-Indonesia Trade and Investment Cooperation yang diselenggarakan di Bangkok, Thailand.
Dalam forum itu, Desra sepakat dengan adanya kesempatan dalam mengembangkan kerjasama antar kedua negara sangat besar, terutama dalam bidang ekonomi digital, industri makanan, pariwisata dan juga pertanian. Namun beliau juga mengakui bahwa tantangan selalu ada. Kedua pemerintahan harus bisa lebih efisien untuk mengimbangi sektor swasta yang berkembang dengan cepat. Apalagi dengan pengembangan teknologi 4.0, Indonesia dan Thailand sangat optimis mampu meningkatkan kerjasama tersebut.

Dalam dua tahun, perdagangan bilateral antara Indonesia dan Thailand telah tumbuh secara signifikan, yaitu tahun 2015 sebesar USD 13,59 miliar dan tahun 2017 sebesar USD 15,74 miliar atau naik sebesar 15,82% hanya dalam 2 tahun. Sedangkan dalam bidang investasi, Thailand berada pada peringkat ke 12 sebagai sumber investasi asing langsung atau Foreign Direct Investment di Indonesia. Desra pun mengundang dan juga mendorong perusahaan-perusahaan Thailand untuk meningkatkan investasinya yang dimiliki di Indonesia.

Untuk memperbaiki iklim investasi, pemerintah meluncurkan 12 paket ekonomi, mengeluarkan one stop service office yang mana proses perizinan dapat selesai hanya dalam 3 jam dan juga terdapat direct construction facility. Hal ini dilakukan sebagai salah satu bentuk reformasi Indonesia untuk memecahkan berbagai permasalahan struktural.
Sementara itu Pitchayapa Charnbhumidol selaku Jenderal Departemen Asia Timur, Kementerian Luar Negeri Thailand memuji peran Indonesia dalam inisiatif global seperti menjadi penyelenggara KAA (Konferensi Asia – Afrika) dan juga kepemimpinan ASEAN serta menjadi satu-satunya negara Asia Tenggara yang masuk dalam G-20. Indikator kekuatan ekonomi Indonesia yang positif menjadi tujuan investasi menarik bagi perusahaan-perusahaan asal Thailand. Sehingga dengan adanya forum bisnis dalam kalangan swasta dan perusahaan asal Thailand membuat pergerakan perdagangan dan juga investasi di Indonesia semakin meningkat.

Dalam sektor kerjasama ekonomi dan perdagangan antara Indonesia dan Pakistan di luar komoditas minyak kelapa sawit, Iwan Suyudhie Amri selaku Duta Besar RI untuk Pakistan mengatakan bahwa Indonesia harus terus berinovasi untuk mencari cara agar kerjasama antar kedua negara dapat meningkat di luar komoditi kelapa sawit.

Jika dilihat dari total nilai perdagangan bilateral di tahun 2017, nilainya sebesar USD 2,64 miliar yang mana 60% nya disumbang oleh minyak kelapa sawit dengan surplus sebesar USD 2,15 miliar. KBRI Islamabad mengunjungi MCCI (Multan Chamber of Commerce and Industry), dimana posisi Multan strategi sebagai kota keempat terbesar yang ada di provinsi Punjab dengan sumber daya alam yang kaya dan produk tekstil serta produk pertanian yang melimpah. Iwan mengatakan ada beberapa komoditas yang dapat ditingkatkan perdagangannya sehingga dapat memberikan manfaat yang lebih besar lagi bagi perekonomian dua negara.

Selama Dubes Iwan berinteraksi dengan pengusaha-pengusaha di Kadin Multan, beliau juga mengajak kedua negara untuk menciptakan hubungan perdagangan yang berkesinambungan dan lebih produktif. Kelebihan yang dimiliki kota Multan akan menjadi pijakan untuk peningkatan diversifikasi kerjasama perdagangan antar kedua negara, yaitu Indonesia dan Pakistan.

Kerjasama Indonesia-Malaysia-Thailand Dalam Pemberdayaan Wilayah Perbatasan
AEC AEC Blueprint Berita

Kerjasama Indonesia-Malaysia-Thailand Dalam Pemberdayaan Wilayah Perbatasan

Kerjasama Indonesia-Malaysia-Thailand Dalam Pemberdayaan Wilayah Perbatasan – Tiga negara ASEAN yang tergabung dalam IMT-GT yaitu Indonesia Malaysia Thailand Growth Triangle menyatakan komitmen untuk menghadapi dampak dari pandemi virus Covid-19 bersama-sama. Salah satu wujud komitmen ini adalah pemulihan ekonomi dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan yang berlaku.

Budi Hartawan selaku Plt. Sekjen Kemnaker mengatakan dibutuhkan sebuah kolaborasi strategi antar negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand dalam kerjasama IMT-GT yang memiliki fokus terhadap pemulihan ekonomi dalam wilayah perbatasan ketiga negara, yaitu Indonesia, Malaysia dan Thailand.

Budi Hartawan juga mengemukakan data-data ADB (Asian Development Bank) selama pandemi dalam konferensi IMT-GT tentang Managing The Impact of Covid-19 on IM-GT WGHRDEC (Working Group on Human Resources Development, Education, and Culture Cooperation). Data yang ditunjukkan memperlihatkan pertumbuhan ekonomi dalam kawasan ASEAN telah mengalami penurunan 3,7%, yang semula 4,7% di tahun 2019 menjadi 1% di tahun 2020 (kuartal pertama). Hal tersebut sesuai dengan laporan ILO yang menyebutkan bahwa pekerja yang ada di kawasan ASEAN mengalami penurunan dan bahkan kehilangan pendapatan. Bahkan bisa dibilang kehilangan perlindungan sosial dan tunjangan terkait pekerjaan memiliki resiko lebih tinggi daripada pekerja migran wanita.

Pandemi ini menimbulkan tantangan baru dalam sektor ketenagakerjaan, yaitu penurunan hasil produksi akibat rantai pemasok global yang terhambat. Hal ini akibat diterapkannya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dan juga karena adanya pembatasan terhadap pergerakan tenaga kerja atau mobilitas orang. Tantangan ini dapat menyebabkan terganggunya keberlangsungan seluruh usaha yang kemudian diikuti turunnya pendapatan pekerja beserta keluarganya. Krisis yang terjadi ini tidak hanya berdampak terhadap sektor formal, namun juga terhadap sektor informal serta kelompok pekerja tertentu (pekerja lansia, pekerja muda).

Masyarakat yang berada di wilayah perbatasan tidak terlepas dari dampak krisis pandemi. Karena perekonomian masyarakat perbatasan masih tergantung dari mobilitas antar negara dan interaksi perdagangan. Namun pandemi Covid-19 tidak hanya menyebabkan krisis, tapi juga membuka banyak peluang baru dalam bidang ketenagakerjaan.

Ketika transisi era new normal, seluruh stakeholder akan didorong untuk beradaptasi dengan cepat agar dapat memanfaatkan peluang untuk mengidentifikasi pekerjaan yang mungkin muncul dimasa depan, seperti memperkuat UMKM dari segi finansial dan juga pemasaran dengan menggunakan teknologi digital dan bekerja tanpa harus ke kantor (work from home). Seperti saat bermain slot online, anda tidak perlu pergi ke kasino untuk bermain dan anda bisa bermain game tersebut secara online hanya dengan menggunakan smartphone.

Dengan adanya IMT-GT diharapkan dapat menjadi forum kerjasama yang potensial untuk menjadikan kawasan ketiga negara yang terintegrasi, inovatif, inklusif dan berkelanjutan. Semangat dan juga solidaritas sub kawasan alias yang berada di wilayah perbatasan akan terus dijaga.
Sedangkan Karo KLN (Kerja Sama Luar Negeri) Kemnaker, yaitu Indah Anggoro Putri yang juga selaku Ketua dalam WG HRDEC menambahkan bahwa forum ini berhasil menghasilkan sebuah rekomendasi kolaborasi yang potensial antar tiga negara dalam sektor ketenagakerjaan sebagai salah satu penanganan terhadap dampak pandemi Covid-19. Rekomendasi ini nantinya akan disesuaikan dengan implementasi dari Blueprint IMT-GT tahun 2017 hingga 2021. Seperti misalnya dengan memberikan peningkatan kapasitas untuk pelatihan dalam bidang digital marketing dan juga dalam penggunaan teknologi untuk mendukung UMKM serta sektor ketenagakerjaan yang berada di wilayah perbatasan. Tidak hanya itu saja, namun juga melakukan penguatan peran pemerintah daerah, terutama 10 provinsi yang ada di Sumatera terkait pemberdayaan ekonomi masyarakat dan juga peningkatan keterampilan dengan melibatkan mitra WG HRDEC yaitu University Network (UNINET) dan Joint Business Council (JBC).

Jawa Timur Dan Thailand Meningkatkan Kerjasama Untuk Menyambut AFTA
AEC Berita

Jawa Timur Dan Thailand Meningkatkan Kerjasama Untuk Menyambut AFTA

Jawa Timur Dan Thailand Meningkatkan Kerjasama Untuk Menyambut AFTA – Pemerintah Jawa Timur dan pemerintah Thailand siap untuk memperkuat kerjasama pada bidang ekonomi, terutama dalam sektor perdagangan, pariwisata dan investasi atau TTI (Trade, Tourism, and Investment). Kerjasama ini disiapkan untuk menyongsong pasar bebas ASEAN tahun 2015 (Asean Free Trade Area/AFTA).

Soekarwo selaku Gubernur Jawa Timur ketika menerima kunjungan Paskorn Siriyaphan selaku Duta Besar Thailand untuk Indonesia dan rombongannya mengatakan bahwa Jawa Timur dan juga Thailand harus mempersiapkan dirinya dengan baik untuk menyambut AFTA. Karena Indonesia, khususnya Jawa Timur dan Thailand memiliki peran penting dalam perekonomian untuk kawasan ASEAN. Karena itulah Jawa Timur ingin memperkuat kerjasama dengan Thailand dalam bidang TTI (Trade, Tourism, and Investment).

Pada sektor perdagangan/trade, Jawa Timur sempat mengalami defisit perdagangan dengan Thailand, terlihat dari data Disperindag Jawa Timur bulan November 2012 yang mana ekspor Jawa Timur ke Thailand hanya USD 403,91 juta padahal impor dari Thailand mencapai USD 928,68 juta. Pada periode yang sama, ekspor Jawa Timur didominasi oleh makanan dan minuman dengan secara keseluruhan mencapai USD 124,597 juta untuk industri kimia dasar dan nilai impor makanan minuman dari Thailand sebesar USD 307,778 juta.

Untuk meningkatkan produksi makanan dan minuman dari hasil pertanian, Gubernur Jawa Timur meminta Thailand agar mendirikan pabrik di Jawa Timur, sebagai salah satu bentuk kerjasama dalam bidang investasi. Tidak hanya itu saja, Jawa Timur juga meminta kerjasama di bidang teknologi pertanian serta lembaga penelitian agrikultur Thailand. Gubernur Jawa Timur mengakui teknologi pertanian Thailand yang baik, oleh karenanya beliau mengharapkan kerjasama antar lembaga penelitian agrikultur Indonesia dan Thailand dapat ditingkatkan.

Dalam bidang pariwisata, Gubernur Jawa Timur berharap Thailand mampu menyediakan paket wisata ke berbagai destinasi yang ada di Jawa Timur. Paket wisata tersebut diharapkan dapat membuat wisatawan Thailand menikmati obyek wisata yang ada di Jawa Timur sekaligus mempromosikannya ketika kembali ke Thailand. Terkait paket wisata tersebut, Gubernur Jawa Timur mengajak Gubernur Bali bekerja sama dalam menyediakan paket wisata Jawa Timur – Bali. Beliau menilai hal ini menguntungkan karena pada waktu-waktu tertentu Bali menjadi sangat padat karena jumlah wisatawan yang meningkat hingga membuat jalan-jalan di Bali menjadi macet. Ketika wisatawan Bali tersebut diarahkan ke Banyuwangi yang keindahan pantainya tidak kalah dengan Bali, setidaknya dapat mengurangi kemacetan di Bali sekaligus memperkenalkan wisata Jawa Timur yang jarang terekspos oleh wisatawan luar negeri.

Selain ketiga bidang tersebut, pemerintah provinsi Jawa Timur juga meminta kerjasama dalam bidang lainnya, yaitu bidang pendidikan khususnya kedokteran. Di Jawa Timur terdapat universitas dengan jurusan kedokteran yang bagus, seperti UNIBRAW dan UNAIR. Sedangkan di Thailand terdapat Chulaborn Research Institute yang terkenal sebagai universitas yang terkenal dengan jurusan kedokterannya. Dengan adanya kerjasama bidang pendidikan ini diharapkan dapat memajukan pendidikan khususnya untuk pendidikan kedokteran di ASEAN.

Paskorn Siriyaphan selaku Duta Besar Thailand untuk Indonesia mengatakan bahwa Thailand siap bekerjasama dalam bidang TTI dengan Jawa Timur. Thailand juga memiliki potensi besar dalam bidang pertanian khususnya agri bisnis. Yang mana salah satu perusahaan terbesar di Thailand yaitu CP Grup memiliki kantor cabang di Indonesia. Dan Thailand akan memfasilitasi agar perusahaan ini dapat membuka kantor cabang berikutnya di Jawa Timur. Tidak berhenti disitu saja, Thailand pun siap mempromosikan Jawa Timur kepada pengusaha-pengusaha Thailand.

Tantangan Hukum dan Solusi Masyarakat Ekonomi ASEAN ke Thailand
AEC Berita

Tantangan Hukum dan Solusi Masyarakat Ekonomi ASEAN ke Thailand

Tantangan Hukum dan Solusi Masyarakat Ekonomi ASEAN ke Thailand – Sejak Masyarakat Ekonomi ASEAN berdiri pada tahun 2015, negara-negara ASEAN sedang mempersiapkan perubahan dan strategi untuk mencapai tujuannya. Seperti negara ASEAN lainnya, Thailand juga menghadapi tantangan hukum. apa tantangannya dan bagaimana cara mengatasinya?

– Tujuan Masyarakat Ekonomi ASEAN
Sejak didirikan pada tahun 2015 oleh Asosiasi Asia Tenggara, Masyarakat Ekonomi ASEAN atau MEA telah menjadi perbincangan khususnya di bidang bisnis dan politik. AEC memiliki pilar utama antara lain terciptanya arus bebas barang, investasi, jasa, tenaga kerja terampil dan modal di antara anggota AEC. Thailand yang merupakan pusat perkembangan geografis dan ekonomi di antara anggota MEA sedang mengalami kemajuan dalam perubahan ekstensif yang diperlukan untuk memiliki ekonomi yang terintegrasi.

– Tantangan Hukum Integrasi Ekonomi ke Thailand
Arus bebas investasi, modal dan jasa diharapkan menjadi tantangan bagi banyak anggota ASEAN kecuali Singapura yang telah membuka sistem investasi asing. Thailand merupakan salah satu negara ASEAN yang perlu melakukan amandemen besar-besaran guna membuka partisipasi asing dari anggota ASEAN lainnya. Undang-undang Foreign Business Act BE 2542 di Thailand memberikan pembatasan 49% partisipasi asing di sektor bisnis Thailand sedangkan MEA Blueprint menargetkan hingga 70% anggota ASEAN untuk berpartisipasi dalam mitra ASEAN lainnya untuk berbagai faktor seperti industri IT, transportasi udara, Pembangunan casino online, pariwisata, logistik dan perawatan kesehatan.

– Solusi untuk Tantangan tersebut
Meskipun tujuan cetak biru MEA akan bertentangan dengan undang-undang FBA, namun untuk mengikuti perubahan yang diperlukan untuk integrasi ekonomi, Kementerian Perdagangan Thailand perlu melakukan pengecualian undang-undang FBA saat memberikan izin kepada partisipasi asing yang berasal dari Anggota ASEAN. Ini akan lebih efektif dan praktis daripada mengubah FBA itu sendiri.

Solusi Masyarakat Ekonomi ASEAN ke Thailand

– Manfaat Komunitas Ekonomi ASEAN bagi Thailand
MEA 2015 telah memberikan perkembangan yang positif bagi Thailand khususnya di bidang perdagangan. Sejak 2018, perdagangan dari Thailand ke negara-negara ASEAN lainnya lebih besar dibandingkan dengan negara lain seperti Amerika Serikat, Jepang, China, atau Uni Eropa.

Masyarakat Ekonomi ASEAN bermanfaat bagi Thailand dan negara-negara ASEAN lainnya karena membantu ASEAN menjadi kawasan dengan pergerakan bebas jasa, tenaga kerja terampil, modal, barang dan investasi. Meski demikian, ada beberapa perubahan atau amandemen yang perlu dilakukan oleh negara-negara ASEAN termasuk Thailand dalam rangka integrasi ekonomi antar negara anggota MEA.

ASEAN Economic Community, Akankah Berhasil?
AEC AEC Blueprint Berita

ASEAN Economic Community, Akankah Berhasil?

AEC atau ASEAN Economic Community adalah organisasi dengan tujuan integrasi ekonomi regional. Meskipun gagal memenuhi tenggat waktu pada tahun 2016, komunitas telah menetapkan tenggat waktu lain pada tahun 2025. Akankah mereka berhasil kali ini, atau akankah mereka mengulang sejarah mereka?

  • AEC dan Batas Waktu
    Meskipun merupakan komunitas negara-negara ASEAN, AEC biasanya juga digunakan untuk merujuk Blueprint. Bagaimanapun, komunitas menciptakan tujuan dan tenggat waktu untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masing-masing anggota menjadi standar. Standar ini diharapkan cukup untuk integrasi ekonomi regional.
  • Kegagalan Masa Lalu
    AEC telah mengalami kegagalan dalam agenda-agenda sebelumnya. Misalnya, Blueprint pertama 2016 adalah suatu kegagalan. Tidak hanya beberapa negara tidak benar-benar memenuhi tenggat waktu, tetapi ada juga keterlambatan dalam mereformasi penyatuan karena membutuhkan waktu dan upaya untuk mengubah aturan di masing-masing negara untuk meresmikan perjudian online. Beberapa masalah seperti pembukaan casino online dan lowongan untuk pekerja tidak terampil juga tidak terselesaikan. Namun, terlepas dari kesalahan tersebut, AEC tidak sepenuhnya gagal. Ekonomi ASEAN masih tumbuh dalam tenggat waktu, terutama di negara-negara yang memenuhi tujuan awal. Pertumbuhan ASEAN di Asia lebih cepat dibandingkan dengan Timur Tengah dan PDBnya.
  • Blueprint 2025
    Berusaha untuk memperbaiki kegagalan masa lalunya, AEC menciptakan Blueprint baru untuk tahun 2025 mendatang. Berdasarkan peningkatan tujuan, Blueprint 2025 kurang ambisius dibandingkan dengan Blueprint sebelumnya. Perubahan ini dibuat agar sesuai dengan kemampuan ASEAN untuk mendorong perkembangan individu mereka. Tujuan utama tenggat 2025 adalah untuk mempersempit kesenjangan ekonomi antara si kaya dan si miskin, menghubungkan lebih banyak pasar, meningkatkan pendidikan, dan meningkatkan mobilitas orang dan barang di seluruh ASEAN. Tenggat waktu juga direncanakan untuk mengurangi hambatan nontarif sambil meningkatkan pelaksanaan fasilitasi perdagangan.
  • Akankah Berhasil?
    Tentunya, agenda baru lebih realistis daripada Blueprint 2016. Tetapi apakah ini akan berhasil? Tentu saja, itu tergantung pada sikap negara. ASEAN, bagaimanapun, terkenal karena tidak mengambil tindakan yang tepat pada rencana yang mereka keluarkan, jika tidak menambahkan lebih banyak rencana dan melupakan yang sebelumnya. Jika mereka fokus, batas waktu 2025 kemungkinan akan dipenuhi, jika tidak dilampaui.
ASEAN Economic Community

Masih belum jelas apakah AEC akan berhasil mencapai tenggat waktu yang akan datang. Namun, Blueprint 2025 jauh lebih realistis dan mudah-mudahan lebih mudah dijangkau oleh anggota AEC. Bahkan jika tenggat waktu tidak terpenuhi pada akhirnya, situasi ekonomi AEC pasti akan terus membaik.

Karakteristik AEC Blueprint
AEC AEC Blueprint Berita

Karakteristik AEC Blueprint


Lima Karakteristik AEC Blueprint – Setelah 2016, Komunitas Ekonomi ASEAN (AEC) datang dengan Blueprint baru. Dengan tujuan baru, batas waktu 2025 juga datang dengan karakteristik baru untuk mendukung integrasi ekonomi antara anggota AEC. Karakteristik ini, tentu saja, dibayangkan ke dalam agenda baru.

– Tentang Blueprint 2025
Sejak kegagalan Blueprint pertama pada tahun 2016, AEC mencoba untuk memperbaiki tujuan mereka menjadi sesuatu yang lebih realistis dan mencakup lebih banyak masalah yang tidak tercakup dalam Blueprint terakhir. Ada beberapa peningkatan yang ditambahkan, seperti mereduksi hambatan non-tarif dan meningkatkan implementasi fasilitas perdagangan.

– Apa yang AEC Kejar?
Melalui Blueprint 2025, AEC khususnya mengejar arah luas melalui langkah-langkah strategis untuk integrasi ekonomi negara-negara ASEAN. Untuk Blueprint itu disebut ASEAN 2025: Forging Ahead Together, Blueprint baru itu seharusnya mendorong pertumbuhan yang lebih baik tidak hanya beberapa, tetapi semua negara ASEAN. Blueprint itu sendiri berisi langkah-langkah strategis di berbagai sektor menggunakan rencana kerja khusus di ASEAN.

– Karakteristik
Sebagai dasar tujuan baru, ada beberapa karakteristik Blueprint 2025. Pertama dan terutama, yaitu : Tujuan baru harus mendukung ekonomi yang sangat terintegrasi dan kohesif yang merupakan tujuan awal dari AEC, untuk memulainya. Untuk meningkatkan integrasi ekonomi, meningkatkan konektivitas dan kerja sama sektoral juga ditambahkan dalam aturan. Selain itu, tujuan tersebut juga akan merangsang sifat kompetitif, inovatif, dan dinamis ASEAN dengan harapan upaya yang bersemangat untuk mendukung tujuan tersebut.

Ada karakter lain yang meningkatkan integrasi sosial Blueprint AEC, yang berharap untuk ASEAN yang tangguh, inklusif, berorientasi pada orang, dan berpusat pada manusia. Semua karakteristik nantinya akan digunakan sebagai panduan untuk mencapai ASEAN global.

– Bagaimana Karakteristik Diimplementasikan dalam Blueprint?
Setiap anggota AEC memiliki rencana spesifik mereka sendiri untuk mencapai Blueprint 2025. Namun, AEC telah merencanakan sektor mana yang perlu ditingkatkan berdasarkan lima karakteristik Blueprint 2025. Misalnya, untuk meningkatkan konektivitas dan koperasi sektoral, AEC sangat menyarankan energi, perdagangan elektronik, transportasi, dan energi. Ada tambahan baru lainnya dalam Blueprint. Untuk kesenjangan antara yang miskin dan yang kaya, AEC juga bercita-cita untuk mempersempit kesenjangan pembangunan.

Sama seperti visi AEC, karakter Blueprint 2025 juga mendukung tujuan awal AEC; integrasi ekonomi ASEAN. Mudah-mudahan, dengan karakter ini diimplementasikan, tenggat waktu 2025 dapat mencapai pertumbuhan substansial pada ekonomi, teknologi, pendidikan, pekerjaan, dan banyak hal lainnya diabaikan pada kegagalan 2016.

Thailand Bersiap untuk AEC Dengan Mendorong Industri Lokal
AEC Berita

Thailand Bersiap untuk AEC Dengan Mendorong Industri Lokal

Thailand Bersiap untuk AEC Dengan Mendorong Industri Lokal – Masyarakat Ekonomi ASEAN pada dasarnya adalah kelompok yang memiliki tujuan untuk meningkatkan tingkat ekonomi anggota ASEAN dengan membuat aturan dan aturan tertentu sehingga perdagangan antara negara-negara tersebut dapat berkembang dengan baik. Thailand, sebagai salah satu anggota ASEAN, bersiap-siap untuk AEC dan bersiap untuk menjadi negara teratas di ASEAN.

• Mendorong Industri Lokal
Untuk menjadi anggota teratas dalam AEC, Thailand harus membuktikan menjadi negara yang maju di sektor ekonomi. Yang paling penting untuk dilakukan adalah mengembangkan industri lokal. Thailand tampaknya bersemangat untuk memiliki pasar merek lokal sehingga kondisi ekonomi bisa lebih baik dan bahkan dapat melampaui Malaysia dan Singapura sebagai negara teratas di ASEAN.

Thailand sudah sukses dalam hal pariwisata dan memiliki banyak wisatawan setiap tahun untuk menikmati getaran eksotis Thailand. Namun, Thailand juga memiliki hal-hal yang lebih unik sehingga orang dapat dengan mudah membedakan bahwa barang-barang itu dari Thailand seperti suvenir dan makanan.

Melihat peluang dan pasar besar ini, Thailand tidak akan membuang waktu dan mendorong industri lokal untuk memberikan sesuatu yang lebih dan lebih. Mengambil keuntungan dari para wisatawan, mereka memberikan lebih banyak stan lokal di kawasan wisata sehingga mereka dapat menyebarkan berita tentang industri lokal Thailand.

• Buat Kebijakan untuk Melindungi Industri Lokal
Thailand juga membuat beberapa kebijakan untuk menyelamatkan industri lokal dari persaingan dengan merek internasional lainnya. Jika Anda pernah pergi ke Thailand, Anda akan merasakan bahwa merek lokal dan makanan lokal mereka jauh lebih murah daripada merek internasional. Begitulah cara mereka untuk bersaing dengan produk lain.

Mereka juga membatasi merek internasional untuk menginvestasikan produk mereka di Thailand, kecuali untuk anggota ASEAN. Dengan cara ini, Thailand bisa mendapatkan manfaat penuh dari produk lokal yang lebih menguntungkan daripada pembagian keuntungan dengan investor internasional.

• Mengekspor Merek Lokal
Daripada mempromosikan merek lokal hanya di dalam Thailand, pemerintah juga mendorong investor dari para anggota speedbet77 yang berasal dari Thailand untuk berinvestasi lebih banyak di negara lain. Mengambil keuntungan dari AEC, Thailand menyebar bisnis casino di antara negara-negara tersebut, sehingga mereka dapat menghasilkan lebih banyak keuntungan dan memperkuat ekonomi mereka dari bisnis perjudian tersebut. Ambil contoh, di Indonesia sudah umum memiliki beberapa produk permainan judi bola saat ini dan produk tersebut sangat terkenal dan memiliki kualitas terbaik.

Ini tidak akan terjadi ketika pemerintah Thailand tidak memiliki strategi yang baik dengan mendorong industri lokal ke pasar ASEAN. Siapa tahu kalau Thailand akan menjadi negara ASEAN teratas dalam AEC.

Pasar Terbuka Sebagai Target ASEAN Economic Community
AEC Berita Komunitas

Pasar Terbuka Sebagai Target ASEAN Economic Community

Pasar Terbuka Sebagai Target ASEAN Economic Community – Masyarakat Ekonomi ASEAN adalah program dari ASEAN untuk mengembangkan anggota di sektor ekonomi. Ada AEC Blueprint yang merupakan beberapa target yang diharapkan akan tercapai pada tahun 2025. Salah satu targetnya adalah membangun pasar terbuka untuk anggota ASEAN.
• Manfaat Pasar Terbuka
Hanya mengambil contoh dari Uni Eropa, AEC juga menempatkan pasar terbuka sebagai salah satu targetnya. Pasar terbuka tampaknya menguntungkan dan memang menguntungkan, terutama untuk industri rumah tangga yang ingin menjual produknya ke negara lain.

Dengan mengambil keuntungan dari pasar terbuka, pengusaha dapat memiliki produknya dijual di negara lain tanpa khawatir tentang biaya ekspor. Sebagai contoh, produk dari Thailand dapat dengan bebas masuk dan dipasarkan di Indonesia. Kemudian, itu juga berarti bahwa pengusaha dapat membantu dalam pengembangan ekonomi negara mereka sendiri.

Lalu lintas produk mungkin lebih mudah di antara negara-negara tersebut dan tidak ada aturan yang lebih ketat yang membatasi perdagangan intra. Jadi, pasar dibuka secara luas hanya untuk negara-negara ASEAN, tetapi tidak untuk negara yang bukan anggota. Itu tidak berarti bahwa produk-produk dari negara-negara anggota lain dapat dengan bebas datang di negara-negara anggota lain, masih ada peraturan tetapi masih, itu akan lebih mudah dari sebelumnya.

Pasar terbuka juga dapat menyambut investor untuk memiliki investasi di negara-negara ASEAN lainnya lebih dari sebelumnya. Karena menghapus aturan ketat itu, para investor dapat berinvestasi lebih bebas dan itu berarti akan ada manfaat yang tidak diragukan bagi kedua belah pihak.

• Sesuatu untuk Dipikirkan Lebih Lanjut
Meskipun pasar terbuka tampaknya penuh manfaat, ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan lebih lanjut. Produk lokal harus siap bersaing dengan produk lain dari negara lain. Jika mereka tidak siap, produk dari negara lain mungkin lebih populer daripada lokal dan itu berarti bahwa perkembangan ekonomi negara itu mungkin terancam.

Ini juga merupakan awal dari kompetisi global dan negara-negara yang tidak dapat bersaing dengan baik akan tersingkir. Itu bisa membuat kondisi ekonomi satu negara lebih buruk dari sebelumnya. Jadi, harus dikaji lebih lanjut apakah negara-negara ASEAN siap untuk pasar terbuka atau tidak.

Akan ada proses dinamis yang pasti akan berubah sementara itu, tetapi tujuan untuk memiliki pasar terbuka di antara negara-negara ASEAN adalah langkah pertama yang baik bagi para anggota untuk tumbuh bersama, terutama dalam hal ekonomi. Semoga pertemuan AEC Blueprint di Thailand tahun ini akan mencapai kesepakatan lain yang akan menumbuhkan ekonomi anggota ASEAN.

DIKELOMPOKKAN MENURUT BISNIS

Logistik, Tenaga Kerja, Pariwisata, UKM Transportasi, biji-bijian, pertanian, kendaraan transportasi IT, medis, pengolahan makanan, makanan, karet & pakaian.

MENURUT NEGARA

CLMV Myanmar , Laos, Kamboja , Indonesia, Vietnam, Singapura , Malaysia, Filipina ລາວ Thailand , Brunei, China, Korea , Jepang, India.

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
shares