Bagaimana Masyarakat Ekonomi ASEAN Dapat Berdampak pada Tenaga Kerja Thailand

Masyarakat Ekonomi ASEAN atau MEA memiliki tujuan untuk pergerakan bebas investasi, tenaga kerja terampil, jasa, modal dan barang di antara para anggotanya. Membahas tentang aliran tenaga kerja yang bebas sebagai bagian dari salah satu artikel blueprint MEA, bagaimana Thailand dapat mempersiapkan diri mereka di sektor ini?

– Tujuan Bebas Buruh
Tujuan dari memiliki pergerakan bebas tenaga kerja terampil atau pekerja profesional adalah untuk menghilangkan pembatasan pekerja profesional ini untuk dipekerjakan di antara negara-negara ASEAN. Ini berarti bahwa warga negara ASEAN dapat bekerja di antara negara-negara ASEAN tanpa visa kerja dalam pekerjaan tertentu. Gerakan bebas ini dapat bermanfaat bagi pengusaha Thailand karena mereka dapat memiliki lebih banyak pilihan untuk merekrut tenaga kerja terampil dari negara-negara ASEAN. Ini juga bisa memberi lebih banyak manfaat bagi konsumen Thailand karena akan memberi mereka lebih banyak pilihan.

– Kekhawatiran dari Pekerja Profesional Thailand
Namun, pergerakan bebas rencana kerja ini juga menimbulkan kekhawatiran di kalangan pekerja profesional Thailand. Mereka takut memiliki aliran tenaga kerja yang bebas ini akan meningkatkan persaingan dan ini bisa berisiko peluang mereka untuk direkrut. Karena bahasa resmi ASEAN adalah bahasa Inggris dan sebagian besar pekerja profesional Thailand yang fasih berbahasa Inggris, itu akan menarik mereka untuk mengejar karier di philipina yang menawarkan upah lebih tinggi diperusahaan sbobet yang menjual produk permainan

– Tantangan Arus Buruh yang Bebas ke Thailand
Hanya profesi terbatas termasuk perawat, dokter, akuntan, surveyor, dokter gigi, insinyur, dan arsitek yang dapat bekerja secara bebas di negara-negara ASEAN dan di Thailand, profesi ini perlu memiliki lisensi untuk bekerja di Thailand. Selain itu, tes lisensi ini hanya tersedia dalam bahasa Thailand dan sangat sulit untuk belajar menulis dan membaca bahasa ini, ini bisa membuat para pekerja profesional dari negara-negara ASEAN lainnya akan enggan datang ke Thailand.

Ada beberapa opsi yang tersedia yang bisa menjadi solusi untuk masalah ini, Thailand dapat mengubah pembatasan bahasa untuk mendapatkan lisensi sehingga akan lebih mudah bagi pekerja asing terampil dari negara-negara ASEAN untuk bersaing dengan pasar lokal atau memilih keluar dari pergerakan bebas artikel tenaga kerja terampil dalam MEA untuk mencegah para pekerja profesional dari Thailand untuk memiliki akses mudah untuk bekerja di negara-negara ASEAN lainnya.

Setiap opsi memiliki kelebihan dan kekurangan yang bisa berdampak di Thailand. Entah Thailand akan membuka pasar internasional dan siap untuk kompetisi di antara negara-negara ASEAN atau menyatakan bahwa warganya tidak siap untuk perubahan ini, Thailand perlu memutuskan dan mempersiapkan gerakan buruh bebas MEA.

Kerjasama Indonesia-Malaysia-Thailand Dalam Pemberdayaan Wilayah Perbatasan
AEC AEC Blueprint Berita

Kerjasama Indonesia-Malaysia-Thailand Dalam Pemberdayaan Wilayah Perbatasan

Kerjasama Indonesia-Malaysia-Thailand Dalam Pemberdayaan Wilayah Perbatasan – Tiga negara ASEAN yang tergabung dalam IMT-GT yaitu Indonesia Malaysia Thailand Growth Triangle menyatakan komitmen untuk menghadapi dampak dari pandemi virus Covid-19 bersama-sama. Salah satu wujud komitmen ini adalah pemulihan ekonomi dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan yang berlaku.

Budi Hartawan selaku Plt. Sekjen Kemnaker mengatakan dibutuhkan sebuah kolaborasi strategi antar negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand dalam kerjasama IMT-GT yang memiliki fokus terhadap pemulihan ekonomi dalam wilayah perbatasan ketiga negara, yaitu Indonesia, Malaysia dan Thailand.

Budi Hartawan juga mengemukakan data-data ADB (Asian Development Bank) selama pandemi dalam konferensi IMT-GT tentang Managing The Impact of Covid-19 on IM-GT WGHRDEC (Working Group on Human Resources Development, Education, and Culture Cooperation). Data yang ditunjukkan memperlihatkan pertumbuhan ekonomi dalam kawasan ASEAN telah mengalami penurunan 3,7%, yang semula 4,7% di tahun 2019 menjadi 1% di tahun 2020 (kuartal pertama). Hal tersebut sesuai dengan laporan ILO yang menyebutkan bahwa pekerja yang ada di kawasan ASEAN mengalami penurunan dan bahkan kehilangan pendapatan. Bahkan bisa dibilang kehilangan perlindungan sosial dan tunjangan terkait pekerjaan memiliki resiko lebih tinggi daripada pekerja migran wanita.

Pandemi ini menimbulkan tantangan baru dalam sektor ketenagakerjaan, yaitu penurunan hasil produksi akibat rantai pemasok global yang terhambat. Hal ini akibat diterapkannya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dan juga karena adanya pembatasan terhadap pergerakan tenaga kerja atau mobilitas orang. Tantangan ini dapat menyebabkan terganggunya keberlangsungan seluruh usaha yang kemudian diikuti turunnya pendapatan pekerja beserta keluarganya. Krisis yang terjadi ini tidak hanya berdampak terhadap sektor formal, namun juga terhadap sektor informal serta kelompok pekerja tertentu (pekerja lansia, pekerja muda).

Masyarakat yang berada di wilayah perbatasan tidak terlepas dari dampak krisis pandemi. Karena perekonomian masyarakat perbatasan masih tergantung dari mobilitas antar negara dan interaksi perdagangan. Namun pandemi Covid-19 tidak hanya menyebabkan krisis, tapi juga membuka banyak peluang baru dalam bidang ketenagakerjaan.

Ketika transisi era new normal, seluruh stakeholder akan didorong untuk beradaptasi dengan cepat agar dapat memanfaatkan peluang untuk mengidentifikasi pekerjaan yang mungkin muncul dimasa depan, seperti memperkuat UMKM dari segi finansial dan juga pemasaran dengan menggunakan teknologi digital dan bekerja tanpa harus ke kantor (work from home). Seperti saat bermain slot online, anda tidak perlu pergi ke kasino untuk bermain dan anda bisa bermain game tersebut secara online hanya dengan menggunakan smartphone.

Dengan adanya IMT-GT diharapkan dapat menjadi forum kerjasama yang potensial untuk menjadikan kawasan ketiga negara yang terintegrasi, inovatif, inklusif dan berkelanjutan. Semangat dan juga solidaritas sub kawasan alias yang berada di wilayah perbatasan akan terus dijaga.
Sedangkan Karo KLN (Kerja Sama Luar Negeri) Kemnaker, yaitu Indah Anggoro Putri yang juga selaku Ketua dalam WG HRDEC menambahkan bahwa forum ini berhasil menghasilkan sebuah rekomendasi kolaborasi yang potensial antar tiga negara dalam sektor ketenagakerjaan sebagai salah satu penanganan terhadap dampak pandemi Covid-19. Rekomendasi ini nantinya akan disesuaikan dengan implementasi dari Blueprint IMT-GT tahun 2017 hingga 2021. Seperti misalnya dengan memberikan peningkatan kapasitas untuk pelatihan dalam bidang digital marketing dan juga dalam penggunaan teknologi untuk mendukung UMKM serta sektor ketenagakerjaan yang berada di wilayah perbatasan. Tidak hanya itu saja, namun juga melakukan penguatan peran pemerintah daerah, terutama 10 provinsi yang ada di Sumatera terkait pemberdayaan ekonomi masyarakat dan juga peningkatan keterampilan dengan melibatkan mitra WG HRDEC yaitu University Network (UNINET) dan Joint Business Council (JBC).

Jawa Timur Dan Thailand Meningkatkan Kerjasama Untuk Menyambut AFTA
AEC Berita

Jawa Timur Dan Thailand Meningkatkan Kerjasama Untuk Menyambut AFTA

Jawa Timur Dan Thailand Meningkatkan Kerjasama Untuk Menyambut AFTA – Pemerintah Jawa Timur dan pemerintah Thailand siap untuk memperkuat kerjasama pada bidang ekonomi, terutama dalam sektor perdagangan, pariwisata dan investasi atau TTI (Trade, Tourism, and Investment). Kerjasama ini disiapkan untuk menyongsong pasar bebas ASEAN tahun 2015 (Asean Free Trade Area/AFTA).

Soekarwo selaku Gubernur Jawa Timur ketika menerima kunjungan Paskorn Siriyaphan selaku Duta Besar Thailand untuk Indonesia dan rombongannya mengatakan bahwa Jawa Timur dan juga Thailand harus mempersiapkan dirinya dengan baik untuk menyambut AFTA. Karena Indonesia, khususnya Jawa Timur dan Thailand memiliki peran penting dalam perekonomian untuk kawasan ASEAN. Karena itulah Jawa Timur ingin memperkuat kerjasama dengan Thailand dalam bidang TTI (Trade, Tourism, and Investment).

Pada sektor perdagangan/trade, Jawa Timur sempat mengalami defisit perdagangan dengan Thailand, terlihat dari data Disperindag Jawa Timur bulan November 2012 yang mana ekspor Jawa Timur ke Thailand hanya USD 403,91 juta padahal impor dari Thailand mencapai USD 928,68 juta. Pada periode yang sama, ekspor Jawa Timur didominasi oleh makanan dan minuman dengan secara keseluruhan mencapai USD 124,597 juta untuk industri kimia dasar dan nilai impor makanan minuman dari Thailand sebesar USD 307,778 juta.

Untuk meningkatkan produksi makanan dan minuman dari hasil pertanian, Gubernur Jawa Timur meminta Thailand agar mendirikan pabrik di Jawa Timur, sebagai salah satu bentuk kerjasama dalam bidang investasi. Tidak hanya itu saja, Jawa Timur juga meminta kerjasama di bidang teknologi pertanian serta lembaga penelitian agrikultur Thailand. Gubernur Jawa Timur mengakui teknologi pertanian Thailand yang baik, oleh karenanya beliau mengharapkan kerjasama antar lembaga penelitian agrikultur Indonesia dan Thailand dapat ditingkatkan.

Dalam bidang pariwisata, Gubernur Jawa Timur berharap Thailand mampu menyediakan paket wisata ke berbagai destinasi yang ada di Jawa Timur. Paket wisata tersebut diharapkan dapat membuat wisatawan Thailand menikmati obyek wisata yang ada di Jawa Timur sekaligus mempromosikannya ketika kembali ke Thailand. Terkait paket wisata tersebut, Gubernur Jawa Timur mengajak Gubernur Bali bekerja sama dalam menyediakan paket wisata Jawa Timur – Bali. Beliau menilai hal ini menguntungkan karena pada waktu-waktu tertentu Bali menjadi sangat padat karena jumlah wisatawan yang meningkat hingga membuat jalan-jalan di Bali menjadi macet. Ketika wisatawan Bali tersebut diarahkan ke Banyuwangi yang keindahan pantainya tidak kalah dengan Bali, setidaknya dapat mengurangi kemacetan di Bali sekaligus memperkenalkan wisata Jawa Timur yang jarang terekspos oleh wisatawan luar negeri.

Selain ketiga bidang tersebut, pemerintah provinsi Jawa Timur juga meminta kerjasama dalam bidang lainnya, yaitu bidang pendidikan khususnya kedokteran. Di Jawa Timur terdapat universitas dengan jurusan kedokteran yang bagus, seperti UNIBRAW dan UNAIR. Sedangkan di Thailand terdapat Chulaborn Research Institute yang terkenal sebagai universitas yang terkenal dengan jurusan kedokterannya. Dengan adanya kerjasama bidang pendidikan ini diharapkan dapat memajukan pendidikan khususnya untuk pendidikan kedokteran di ASEAN.

Paskorn Siriyaphan selaku Duta Besar Thailand untuk Indonesia mengatakan bahwa Thailand siap bekerjasama dalam bidang TTI dengan Jawa Timur. Thailand juga memiliki potensi besar dalam bidang pertanian khususnya agri bisnis. Yang mana salah satu perusahaan terbesar di Thailand yaitu CP Grup memiliki kantor cabang di Indonesia. Dan Thailand akan memfasilitasi agar perusahaan ini dapat membuka kantor cabang berikutnya di Jawa Timur. Tidak berhenti disitu saja, Thailand pun siap mempromosikan Jawa Timur kepada pengusaha-pengusaha Thailand.

Tantangan Hukum dan Solusi Masyarakat Ekonomi ASEAN ke Thailand
AEC Berita

Tantangan Hukum dan Solusi Masyarakat Ekonomi ASEAN ke Thailand

Tantangan Hukum dan Solusi Masyarakat Ekonomi ASEAN ke Thailand – Sejak Masyarakat Ekonomi ASEAN berdiri pada tahun 2015, negara-negara ASEAN sedang mempersiapkan perubahan dan strategi untuk mencapai tujuannya. Seperti negara ASEAN lainnya, Thailand juga menghadapi tantangan hukum. apa tantangannya dan bagaimana cara mengatasinya?

– Tujuan Masyarakat Ekonomi ASEAN
Sejak didirikan pada tahun 2015 oleh Asosiasi Asia Tenggara, Masyarakat Ekonomi ASEAN atau MEA telah menjadi perbincangan khususnya di bidang bisnis dan politik. AEC memiliki pilar utama antara lain terciptanya arus bebas barang, investasi, jasa, tenaga kerja terampil dan modal di antara anggota AEC. Thailand yang merupakan pusat perkembangan geografis dan ekonomi di antara anggota MEA sedang mengalami kemajuan dalam perubahan ekstensif yang diperlukan untuk memiliki ekonomi yang terintegrasi.

– Tantangan Hukum Integrasi Ekonomi ke Thailand
Arus bebas investasi, modal dan jasa diharapkan menjadi tantangan bagi banyak anggota ASEAN kecuali Singapura yang telah membuka sistem investasi asing. Thailand merupakan salah satu negara ASEAN yang perlu melakukan amandemen besar-besaran guna membuka partisipasi asing dari anggota ASEAN lainnya. Undang-undang Foreign Business Act BE 2542 di Thailand memberikan pembatasan 49% partisipasi asing di sektor bisnis Thailand sedangkan MEA Blueprint menargetkan hingga 70% anggota ASEAN untuk berpartisipasi dalam mitra ASEAN lainnya untuk berbagai faktor seperti industri IT, transportasi udara, Pembangunan casino online, pariwisata, logistik dan perawatan kesehatan.

– Solusi untuk Tantangan tersebut
Meskipun tujuan cetak biru MEA akan bertentangan dengan undang-undang FBA, namun untuk mengikuti perubahan yang diperlukan untuk integrasi ekonomi, Kementerian Perdagangan Thailand perlu melakukan pengecualian undang-undang FBA saat memberikan izin kepada partisipasi asing yang berasal dari Anggota ASEAN. Ini akan lebih efektif dan praktis daripada mengubah FBA itu sendiri.

Solusi Masyarakat Ekonomi ASEAN ke Thailand

– Manfaat Komunitas Ekonomi ASEAN bagi Thailand
MEA 2015 telah memberikan perkembangan yang positif bagi Thailand khususnya di bidang perdagangan. Sejak 2018, perdagangan dari Thailand ke negara-negara ASEAN lainnya lebih besar dibandingkan dengan negara lain seperti Amerika Serikat, Jepang, China, atau Uni Eropa.

Masyarakat Ekonomi ASEAN bermanfaat bagi Thailand dan negara-negara ASEAN lainnya karena membantu ASEAN menjadi kawasan dengan pergerakan bebas jasa, tenaga kerja terampil, modal, barang dan investasi. Meski demikian, ada beberapa perubahan atau amandemen yang perlu dilakukan oleh negara-negara ASEAN termasuk Thailand dalam rangka integrasi ekonomi antar negara anggota MEA.

ASEAN Economic Community, Akankah Berhasil?
AEC AEC Blueprint Berita

ASEAN Economic Community, Akankah Berhasil?

AEC atau ASEAN Economic Community adalah organisasi dengan tujuan integrasi ekonomi regional. Meskipun gagal memenuhi tenggat waktu pada tahun 2016, komunitas telah menetapkan tenggat waktu lain pada tahun 2025. Akankah mereka berhasil kali ini, atau akankah mereka mengulang sejarah mereka?

  • AEC dan Batas Waktu
    Meskipun merupakan komunitas negara-negara ASEAN, AEC biasanya juga digunakan untuk merujuk Blueprint. Bagaimanapun, komunitas menciptakan tujuan dan tenggat waktu untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masing-masing anggota menjadi standar. Standar ini diharapkan cukup untuk integrasi ekonomi regional.
  • Kegagalan Masa Lalu
    AEC telah mengalami kegagalan dalam agenda-agenda sebelumnya. Misalnya, Blueprint pertama 2016 adalah suatu kegagalan. Tidak hanya beberapa negara tidak benar-benar memenuhi tenggat waktu, tetapi ada juga keterlambatan dalam mereformasi penyatuan karena membutuhkan waktu dan upaya untuk mengubah aturan di masing-masing negara untuk meresmikan perjudian online. Beberapa masalah seperti pembukaan casino online dan lowongan untuk pekerja tidak terampil juga tidak terselesaikan. Namun, terlepas dari kesalahan tersebut, AEC tidak sepenuhnya gagal. Ekonomi ASEAN masih tumbuh dalam tenggat waktu, terutama di negara-negara yang memenuhi tujuan awal. Pertumbuhan ASEAN di Asia lebih cepat dibandingkan dengan Timur Tengah dan PDBnya.
  • Blueprint 2025
    Berusaha untuk memperbaiki kegagalan masa lalunya, AEC menciptakan Blueprint baru untuk tahun 2025 mendatang. Berdasarkan peningkatan tujuan, Blueprint 2025 kurang ambisius dibandingkan dengan Blueprint sebelumnya. Perubahan ini dibuat agar sesuai dengan kemampuan ASEAN untuk mendorong perkembangan individu mereka. Tujuan utama tenggat 2025 adalah untuk mempersempit kesenjangan ekonomi antara si kaya dan si miskin, menghubungkan lebih banyak pasar, meningkatkan pendidikan, dan meningkatkan mobilitas orang dan barang di seluruh ASEAN. Tenggat waktu juga direncanakan untuk mengurangi hambatan nontarif sambil meningkatkan pelaksanaan fasilitasi perdagangan.
  • Akankah Berhasil?
    Tentunya, agenda baru lebih realistis daripada Blueprint 2016. Tetapi apakah ini akan berhasil? Tentu saja, itu tergantung pada sikap negara. ASEAN, bagaimanapun, terkenal karena tidak mengambil tindakan yang tepat pada rencana yang mereka keluarkan, jika tidak menambahkan lebih banyak rencana dan melupakan yang sebelumnya. Jika mereka fokus, batas waktu 2025 kemungkinan akan dipenuhi, jika tidak dilampaui.
ASEAN Economic Community

Masih belum jelas apakah AEC akan berhasil mencapai tenggat waktu yang akan datang. Namun, Blueprint 2025 jauh lebih realistis dan mudah-mudahan lebih mudah dijangkau oleh anggota AEC. Bahkan jika tenggat waktu tidak terpenuhi pada akhirnya, situasi ekonomi AEC pasti akan terus membaik.

Karakteristik AEC Blueprint
AEC AEC Blueprint Berita

Karakteristik AEC Blueprint


Lima Karakteristik AEC Blueprint – Setelah 2016, Komunitas Ekonomi ASEAN (AEC) datang dengan Blueprint baru. Dengan tujuan baru, batas waktu 2025 juga datang dengan karakteristik baru untuk mendukung integrasi ekonomi antara anggota AEC. Karakteristik ini, tentu saja, dibayangkan ke dalam agenda baru.

– Tentang Blueprint 2025
Sejak kegagalan Blueprint pertama pada tahun 2016, AEC mencoba untuk memperbaiki tujuan mereka menjadi sesuatu yang lebih realistis dan mencakup lebih banyak masalah yang tidak tercakup dalam Blueprint terakhir. Ada beberapa peningkatan yang ditambahkan, seperti mereduksi hambatan non-tarif dan meningkatkan implementasi fasilitas perdagangan.

– Apa yang AEC Kejar?
Melalui Blueprint 2025, AEC khususnya mengejar arah luas melalui langkah-langkah strategis untuk integrasi ekonomi negara-negara ASEAN. Untuk Blueprint itu disebut ASEAN 2025: Forging Ahead Together, Blueprint baru itu seharusnya mendorong pertumbuhan yang lebih baik tidak hanya beberapa, tetapi semua negara ASEAN. Blueprint itu sendiri berisi langkah-langkah strategis di berbagai sektor menggunakan rencana kerja khusus di ASEAN.

– Karakteristik
Sebagai dasar tujuan baru, ada beberapa karakteristik Blueprint 2025. Pertama dan terutama, yaitu : Tujuan baru harus mendukung ekonomi yang sangat terintegrasi dan kohesif yang merupakan tujuan awal dari AEC, untuk memulainya. Untuk meningkatkan integrasi ekonomi, meningkatkan konektivitas dan kerja sama sektoral juga ditambahkan dalam aturan. Selain itu, tujuan tersebut juga akan merangsang sifat kompetitif, inovatif, dan dinamis ASEAN dengan harapan upaya yang bersemangat untuk mendukung tujuan tersebut.

Ada karakter lain yang meningkatkan integrasi sosial Blueprint AEC, yang berharap untuk ASEAN yang tangguh, inklusif, berorientasi pada orang, dan berpusat pada manusia. Semua karakteristik nantinya akan digunakan sebagai panduan untuk mencapai ASEAN global.

– Bagaimana Karakteristik Diimplementasikan dalam Blueprint?
Setiap anggota AEC memiliki rencana spesifik mereka sendiri untuk mencapai Blueprint 2025. Namun, AEC telah merencanakan sektor mana yang perlu ditingkatkan berdasarkan lima karakteristik Blueprint 2025. Misalnya, untuk meningkatkan konektivitas dan koperasi sektoral, AEC sangat menyarankan energi, perdagangan elektronik, transportasi, dan energi. Ada tambahan baru lainnya dalam Blueprint. Untuk kesenjangan antara yang miskin dan yang kaya, AEC juga bercita-cita untuk mempersempit kesenjangan pembangunan.

Sama seperti visi AEC, karakter Blueprint 2025 juga mendukung tujuan awal AEC; integrasi ekonomi ASEAN. Mudah-mudahan, dengan karakter ini diimplementasikan, tenggat waktu 2025 dapat mencapai pertumbuhan substansial pada ekonomi, teknologi, pendidikan, pekerjaan, dan banyak hal lainnya diabaikan pada kegagalan 2016.

Thailand Bersiap untuk AEC Dengan Mendorong Industri Lokal
AEC Berita

Thailand Bersiap untuk AEC Dengan Mendorong Industri Lokal

Thailand Bersiap untuk AEC Dengan Mendorong Industri Lokal – Masyarakat Ekonomi ASEAN pada dasarnya adalah kelompok yang memiliki tujuan untuk meningkatkan tingkat ekonomi anggota ASEAN dengan membuat aturan dan aturan tertentu sehingga perdagangan antara negara-negara tersebut dapat berkembang dengan baik. Thailand, sebagai salah satu anggota ASEAN, bersiap-siap untuk AEC dan bersiap untuk menjadi negara teratas di ASEAN.

• Mendorong Industri Lokal
Untuk menjadi anggota teratas dalam AEC, Thailand harus membuktikan menjadi negara yang maju di sektor ekonomi. Yang paling penting untuk dilakukan adalah mengembangkan industri lokal. Thailand tampaknya bersemangat untuk memiliki pasar merek lokal sehingga kondisi ekonomi bisa lebih baik dan bahkan dapat melampaui Malaysia dan Singapura sebagai negara teratas di ASEAN.

Thailand sudah sukses dalam hal pariwisata dan memiliki banyak wisatawan setiap tahun untuk menikmati getaran eksotis Thailand. Namun, Thailand juga memiliki hal-hal yang lebih unik sehingga orang dapat dengan mudah membedakan bahwa barang-barang itu dari Thailand seperti suvenir dan makanan.

Melihat peluang dan pasar besar ini, Thailand tidak akan membuang waktu dan mendorong industri lokal untuk memberikan sesuatu yang lebih dan lebih. Mengambil keuntungan dari para wisatawan, mereka memberikan lebih banyak stan lokal di kawasan wisata sehingga mereka dapat menyebarkan berita tentang industri lokal Thailand.

• Buat Kebijakan untuk Melindungi Industri Lokal
Thailand juga membuat beberapa kebijakan untuk menyelamatkan industri lokal dari persaingan dengan merek internasional lainnya. Jika Anda pernah pergi ke Thailand, Anda akan merasakan bahwa merek lokal dan makanan lokal mereka jauh lebih murah daripada merek internasional. Begitulah cara mereka untuk bersaing dengan produk lain.

Mereka juga membatasi merek internasional untuk menginvestasikan produk mereka di Thailand, kecuali untuk anggota ASEAN. Dengan cara ini, Thailand bisa mendapatkan manfaat penuh dari produk lokal yang lebih menguntungkan daripada pembagian keuntungan dengan investor internasional.

• Mengekspor Merek Lokal
Daripada mempromosikan merek lokal hanya di dalam Thailand, pemerintah juga mendorong investor dari para anggota speedbet77 yang berasal dari Thailand untuk berinvestasi lebih banyak di negara lain. Mengambil keuntungan dari AEC, Thailand menyebar bisnis casino di antara negara-negara tersebut, sehingga mereka dapat menghasilkan lebih banyak keuntungan dan memperkuat ekonomi mereka dari bisnis perjudian tersebut. Ambil contoh, di Indonesia sudah umum memiliki beberapa produk permainan judi bola saat ini dan produk tersebut sangat terkenal dan memiliki kualitas terbaik.

Ini tidak akan terjadi ketika pemerintah Thailand tidak memiliki strategi yang baik dengan mendorong industri lokal ke pasar ASEAN. Siapa tahu kalau Thailand akan menjadi negara ASEAN teratas dalam AEC.

Pasar Terbuka Sebagai Target ASEAN Economic Community
AEC Berita Komunitas

Pasar Terbuka Sebagai Target ASEAN Economic Community

Pasar Terbuka Sebagai Target ASEAN Economic Community – Masyarakat Ekonomi ASEAN adalah program dari ASEAN untuk mengembangkan anggota di sektor ekonomi. Ada AEC Blueprint yang merupakan beberapa target yang diharapkan akan tercapai pada tahun 2025. Salah satu targetnya adalah membangun pasar terbuka untuk anggota ASEAN.
• Manfaat Pasar Terbuka
Hanya mengambil contoh dari Uni Eropa, AEC juga menempatkan pasar terbuka sebagai salah satu targetnya. Pasar terbuka tampaknya menguntungkan dan memang menguntungkan, terutama untuk industri rumah tangga yang ingin menjual produknya ke negara lain.

Dengan mengambil keuntungan dari pasar terbuka, pengusaha dapat memiliki produknya dijual di negara lain tanpa khawatir tentang biaya ekspor. Sebagai contoh, produk dari Thailand dapat dengan bebas masuk dan dipasarkan di Indonesia. Kemudian, itu juga berarti bahwa pengusaha dapat membantu dalam pengembangan ekonomi negara mereka sendiri.

Lalu lintas produk mungkin lebih mudah di antara negara-negara tersebut dan tidak ada aturan yang lebih ketat yang membatasi perdagangan intra. Jadi, pasar dibuka secara luas hanya untuk negara-negara ASEAN, tetapi tidak untuk negara yang bukan anggota. Itu tidak berarti bahwa produk-produk dari negara-negara anggota lain dapat dengan bebas datang di negara-negara anggota lain, masih ada peraturan tetapi masih, itu akan lebih mudah dari sebelumnya.

Pasar terbuka juga dapat menyambut investor untuk memiliki investasi di negara-negara ASEAN lainnya lebih dari sebelumnya. Karena menghapus aturan ketat itu, para investor dapat berinvestasi lebih bebas dan itu berarti akan ada manfaat yang tidak diragukan bagi kedua belah pihak.

• Sesuatu untuk Dipikirkan Lebih Lanjut
Meskipun pasar terbuka tampaknya penuh manfaat, ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan lebih lanjut. Produk lokal harus siap bersaing dengan produk lain dari negara lain. Jika mereka tidak siap, produk dari negara lain mungkin lebih populer daripada lokal dan itu berarti bahwa perkembangan ekonomi negara itu mungkin terancam.

Ini juga merupakan awal dari kompetisi global dan negara-negara yang tidak dapat bersaing dengan baik akan tersingkir. Itu bisa membuat kondisi ekonomi satu negara lebih buruk dari sebelumnya. Jadi, harus dikaji lebih lanjut apakah negara-negara ASEAN siap untuk pasar terbuka atau tidak.

Akan ada proses dinamis yang pasti akan berubah sementara itu, tetapi tujuan untuk memiliki pasar terbuka di antara negara-negara ASEAN adalah langkah pertama yang baik bagi para anggota untuk tumbuh bersama, terutama dalam hal ekonomi. Semoga pertemuan AEC Blueprint di Thailand tahun ini akan mencapai kesepakatan lain yang akan menumbuhkan ekonomi anggota ASEAN.

DIKELOMPOKKAN MENURUT BISNIS

Logistik, Tenaga Kerja, Pariwisata, UKM Transportasi, biji-bijian, pertanian, kendaraan transportasi IT, medis, pengolahan makanan, makanan, karet & pakaian.

MENURUT NEGARA

CLMV Myanmar , Laos, Kamboja , Indonesia, Vietnam, Singapura , Malaysia, Filipina ລາວ Thailand , Brunei, China, Korea , Jepang, India.

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
shares